Friday, 11 January 2013

Wakil Rakyat yang Bukan Rakyat



Mahatma Gandhi, tokoh pejuang bagi kemerdekaan India, yang terkenal dengan gerakan nonkekerasan, suka pergi ke mana-mana dengan telanjang dada. Pada suatu hari, ketika ia mengunjungi sebuah desa, seorang gadis remaja merasa risih dengan penampilannya, lalu mendekatinya dan berkata:
“Mengapa Kakek tidak mengenakan baju? Jika Kakek berkenan, saya akan minta kepada ayah saya untuk memberikan baju untuk Kakek.”
“Jika kau memberi aku baju,” kata Gandhi, “beri juga saudara-saudaraku yang lain. Jika tidak, mereka yang juga berpakaian seperti aku ini akan iri terhadapku, lalu akan bertengkar denganku.”
“Kalau begitu, saya akan minta kepada ayah saya untuk memberikan baju untuk semua saudara Kakek,” jawab gadis itu. “Berapa jumlah saudara Kakek?”
“Tidak banyak, kok. Cuma empat ratus juta,” jawab Gandhi sambil tersenyum.
Mendengar jawaban Gandhi, gadis itu tersipu-sipu dan tidak tahu harus berkata apa.
Seorang pemimpin seperti Mahatma Gandhi tidak pernah meninggalkan rakyatnya di belakang. Dia justru selalu ingin menjadi bagian dari rakyatnya. Ia sebisa mungkin akan melakukan segala cara untuk dapat membagi apa yang ia miliki dengan rakyatnya. Ia selalu mau diperlakukan sama dengan rakyatnya. Seorang pemimpin yang rendah hati, memiliki integritas, dan sangat bijaksana.
Di ranah bumi Indonesia, sepertinya diperlukan mental pemimpin yang seperti itu. Di mana saat ini kita sedang menghadapi krisis multidimensional. Korupsi di mana-mana. Rakyat miskin semakin menjadi-jadi. Kesejahteraan dari rakyat pun menurun.
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai suatu badan yang menjadi wakil dan tangan dari rakyat telah melakukan hal yang bertentangan dari apa yang dilakukan oleh Gandhi di atas.
Di dalam akronim DPR terdapat unsur kata “rakyat” namun apakah kata itu diserapi maknanya oleh anggota DPR sendiri? Rasanya tidak. Kata “rakyat” hanya hiasan pemanis saja agar kelihatannya mereka bagian dari rakyat. Tapi kenyataannya mereka bukan.
Bagaimana bisa wakil rakyat tersebut mengerti arti kata rakyat jika yang mereka lakukan hanya menghamburkan uang negara dengan alasan fasilitas dan kepentingan kenyamanan pribadi mereka. Seorang pemimpin sejati seperti Gandhi, tidak butuh fasilitas untuk dapat memperjuangkan kemerdekaan India. Ia malah ingin menjadi sama dengan rakyatnya, tanpa dibedakan apapun. Jika rakyat sengsara, ia juga harus merasakan sengsara. Jika rakyat tidak memakai baju, ia juga harus tidak memakai baju. Ya tentunya tidak harus seekstrem yang dilakukan Gandhi, namun setidaknya pahamilah rakyatmu.
Ketika persoalan kemiskinan semakin membelenggu di tanah Indonesia ini, mereka yang disebut sebagai wakil rakyat malah merenovasi gedung mereka dengan biaya sampai bermiliar-miliar rupiah. Lalu ketika mereka merenovasi gedung apakah hati mereka terenovasi seluruhnya menjadi seorang pemimpin seperti Gandhi? Bahkan DPR kitapun tidak mengemban tugas sesulit Gandhi yang memperjuangkan kemerdekaan rakyat India. Mereka hanya harus mengisi kemerdekaan. Tapi pernahkah mereka memahami rakyatnya?
Mereka sibuk dengan mencari kesenangan pribadi tanpa mengerti arti menjadi wakil rakyat itu sendiri. Bagaimana bisa dapat menjadi wakil rakyat kalau mereka sendiri tidak paham bagaimana caranya untuk menjadi rakyat? Mereka secara tidak sengaja menjadi seorang pejabat yang lupa akan tugas dan tanggung jawab yang seharusnya dilaksanakan oleh mereka. Gandhi bahkan menganggap seluruh rakyatnya adalah saudara dari dirinya. Kalau DPR?
Masalah mentalitas seorang pemimpin memang sangat krusial dalam membangun arah pembangunan dari rakyatnya. Mentalitas pemimpin ini hanya tergantung dari hati nurani masing-masing orang. Ya kita lihat saja, bagaimana para wakil rakyat tersebut mendefinisikan kata “rakyat” dalam beberapa tahun ke depan. Masihkah sama? 

No comments:

Post a Comment