Seandainya ada yang mencoba untuk menyelami pikiran
Kata-kata ada untuk dimaknai dan dimengerti bukan hanya untuk dibaca lalu ditinggalkan
Seandainya kita terbiasa untuk membaca semuanya dahulu
Kata-kata tidak bisa dimaknai sepotong-sepotong, dia utuh ketika ada kalimat
Seandainya aku kamu
Kata-kata akan kubaca dahulu, untuk menyelami pikiranmu
Thursday, 4 August 2011
takut
salahkah jika seorang pencinta memiliki banyak pertanyaan?
ribuan bahkan..
tentang sesuatu yang kita punya sekarang,
tapi kita tidak tahu, nanti
adakah rasa ini tetap sama nanti?
adakah dia saat aku benar-benar membutuhkan seseorang untuk menopangku?
adakah dia saat aku ingin bercanda, mengolok-olok dia berdasarkan cinta?
adakah dia saat aku hanya ingin melihatnya saja, mendengar suaranya, melihat senyumannya, mendekap aroma tubuhnya, mengenggam tangannya?
adakah dia saat aku bangun dan mengatakan bahwa ia sayang aku?
adakah semua ini tetap sama?
tahun demi tahun?
aku hanya ingin kamu, cuma kamu
kalau bisa hanya kamu, tidak mau yang lain lagi
tidak mau hati ini berpijak dari kamu
tidak mau ada halangan
tidak mau berpisah dengan kamu
kenapa pertanyaan ini tidak bisa dijawab?
aku ingin kepastian
yang aku tahu pasti, aku bisa melakukan apapun untuk mempertahankan kamu
begitu mencintai kamu
tidak usah hari demi hari, aku mencintaimu dari detik demi detik
tidak usah menjawab jika bertanya
tidak usah bertanya jika menjawab
maka hanya waktu dan Dia yang tahu
apa keinginan, jawaban, dan pertanyaan
apa mereka satu
tapi sebelum itu terjawab
aku takut
ribuan bahkan..
tentang sesuatu yang kita punya sekarang,
tapi kita tidak tahu, nanti
adakah rasa ini tetap sama nanti?
adakah dia saat aku benar-benar membutuhkan seseorang untuk menopangku?
adakah dia saat aku ingin bercanda, mengolok-olok dia berdasarkan cinta?
adakah dia saat aku hanya ingin melihatnya saja, mendengar suaranya, melihat senyumannya, mendekap aroma tubuhnya, mengenggam tangannya?
adakah dia saat aku bangun dan mengatakan bahwa ia sayang aku?
adakah semua ini tetap sama?
tahun demi tahun?
aku hanya ingin kamu, cuma kamu
kalau bisa hanya kamu, tidak mau yang lain lagi
tidak mau hati ini berpijak dari kamu
tidak mau ada halangan
tidak mau berpisah dengan kamu
kenapa pertanyaan ini tidak bisa dijawab?
aku ingin kepastian
yang aku tahu pasti, aku bisa melakukan apapun untuk mempertahankan kamu
begitu mencintai kamu
tidak usah hari demi hari, aku mencintaimu dari detik demi detik
tidak usah menjawab jika bertanya
tidak usah bertanya jika menjawab
maka hanya waktu dan Dia yang tahu
apa keinginan, jawaban, dan pertanyaan
apa mereka satu
tapi sebelum itu terjawab
aku takut
Friday, 22 July 2011
untuk seseorang dari kenangan lama,
jangan pernah berpikir aku akan melupakan kita
tidak akan.
setidaknya kau sudah mewarnai hari-hariku selama 4 tahun hampir 5
dan itu tidak akan mudah tanpa kamu
setidaknya aku pernah merasa senang, tersakiti, menangis, bahagia saat kita bersama
ya, aku masih ingat benar ketika aku sakit, ketika opa sakit, hanya kamu yang ada..hanya kamu
ketika aku dicacimaki bu yulia...hahahahaha..
ketika aku tampil di panggung itu, hanya ada kamu.
ketika smuanya susah. hanya ada kamu.
aku tidak pernah berharap untuk berpisah dari kamu, tapi menurutku itulah hal yang paling benar.
kamu bisa mencari orang lain yang mungkin bisa mencintai kamu lebih dari aku.
lebih sabar dari aku.
cuma aku minta satu dari kamu.
jangan jauhi kami, teman-temanmu..
apa aku yang salah jika kamu tidak mau jadi salah satu dari kami lagi?
za, kami masih orang yang dulu, hanya karena aku kah kamu berubah?
ingat, teman selalu ada. kalau kamu butuh..kamu ingin cerita..kita selalu ada..
kalaupun kita tidak ada, aku ada.
tidak akan.
setidaknya kau sudah mewarnai hari-hariku selama 4 tahun hampir 5
dan itu tidak akan mudah tanpa kamu
setidaknya aku pernah merasa senang, tersakiti, menangis, bahagia saat kita bersama
ya, aku masih ingat benar ketika aku sakit, ketika opa sakit, hanya kamu yang ada..hanya kamu
ketika aku dicacimaki bu yulia...hahahahaha..
ketika aku tampil di panggung itu, hanya ada kamu.
ketika smuanya susah. hanya ada kamu.
aku tidak pernah berharap untuk berpisah dari kamu, tapi menurutku itulah hal yang paling benar.
kamu bisa mencari orang lain yang mungkin bisa mencintai kamu lebih dari aku.
lebih sabar dari aku.
cuma aku minta satu dari kamu.
jangan jauhi kami, teman-temanmu..
apa aku yang salah jika kamu tidak mau jadi salah satu dari kami lagi?
za, kami masih orang yang dulu, hanya karena aku kah kamu berubah?
ingat, teman selalu ada. kalau kamu butuh..kamu ingin cerita..kita selalu ada..
kalaupun kita tidak ada, aku ada.
Friday, 8 July 2011
kau hanya diam
“Aku mencintaimu,” kataku. Tidak ada jawaban. Kau hanya diam.
Mungkinkah kau marah padaku? Biasanya kau langsung menjawab, mengatakan
“Aku juga” atau kadang “Aku mencintaimu lebih.” Tapi kini kau diam.
Aku pun berusaha lagi memancingmu mengatakan sesuatu. “Aku membawakanmu bunga. Bunga kesukaanmu, lily,” kataku lagi sambil menatapmu. Tetap tidak ada jawaban apapun dari mulutmu. Apa salahku?
“Nak, sudah. Pacarmu sudah pergi. Relakanlah. Sekarang petinya harus ditutup. Biarkanlah ia beristirahat dengan tenang.”
Mungkinkah kau marah padaku? Biasanya kau langsung menjawab, mengatakan
“Aku juga” atau kadang “Aku mencintaimu lebih.” Tapi kini kau diam.
Aku pun berusaha lagi memancingmu mengatakan sesuatu. “Aku membawakanmu bunga. Bunga kesukaanmu, lily,” kataku lagi sambil menatapmu. Tetap tidak ada jawaban apapun dari mulutmu. Apa salahku?
“Nak, sudah. Pacarmu sudah pergi. Relakanlah. Sekarang petinya harus ditutup. Biarkanlah ia beristirahat dengan tenang.”
Thursday, 7 July 2011
hitam
Aku diam. Sedangkan ia, ia hanya memandangku tanpa tahu harus berkata apa. Sejenak, hanya rintik hujan yang kudengar.
“Hujan di luar,” kataku.
Perlahan ia berjalan menuju jendela kamar kami. Tiba-tiba ia menangis sambil memandangi hujan di sore itu.
Aku berkata lagi, “Sudahlah, ia sudah mati. Untuk apa kau tangisi lagi?”
Ia diam.
Lalu memandangku dengan tatapan tajam, “Ia mati karena dibunuh kau! Ayahnya sendiri. Lalu sekarang kau menyuruhku berhenti menangis?”
“Hujan di luar,” kataku.
Perlahan ia berjalan menuju jendela kamar kami. Tiba-tiba ia menangis sambil memandangi hujan di sore itu.
Aku berkata lagi, “Sudahlah, ia sudah mati. Untuk apa kau tangisi lagi?”
Ia diam.
Lalu memandangku dengan tatapan tajam, “Ia mati karena dibunuh kau! Ayahnya sendiri. Lalu sekarang kau menyuruhku berhenti menangis?”
Subscribe to:
Posts (Atom)