Suatu hari setelah UAS, tapi gw lupa UAS apa, gw sedang di mobil dan mendengarkan radio. Ya, hari itu udah capek banget. Untungnya yang nyetir temen gw, Ray, dan di situ ada juga Nicke yang numpang sampe gerbang tol. Jadi, di saat udah suntuk banget karena otak terkuras, kita nyanyi2 deh di dalam mobil. Entah apa yang terjadi pada Mustang FM saat itu, lagu2nya semua slow and...it's all about love..jadi ray, ngantuk banget, ya udah lah..gw ganti aja tuh frekuensi..pas balik lagi ke radio itu, diputer deh ni lagu
I cried a tear
You whipped it dry
I was confused
You cleared my mind
I sold my soul
You bought it back for me
And helped me up
And gave me dignity
Somehow you needed me
(Chorus):
You gave me strength
To stand alone again
To face the world
Out on my own again
You put me high
Upon a pedestal
So high that I could almost see eternity
You needed me
You needed me
And I can't believe it's you
I can't believe it's true
I needed you
And you were there
And I'll never live what should I feel
I need a fool
And I finally found someone who really care
You needed me
You held my hand
When it was cold
When I was lost
You took me home
You gave me love
When I was empty, and
And turned my light
Back into truth again
You even called me friend
(Repeat Chorus)
You needed me
You needed me
You needed me
You needed me
You needed me
setelah denger, kok kayaknya enak juga nih lagu. cocok buat orang yang lagi desperate..gw nggak bilang orang itu gw, yg jelas liriknya bagus banget..dan ya, gw suka..hahahahaha :)
Tuesday, 1 February 2011
"....."
Kau tahu segalanya
Apa yang kurasakan
Kau tanya
Tapi lebih baik aku tidak menjawab
Kadang,
Saat kita merasa
Lebih sulit mengatakannya
Saat tidak merasa
Dengan mudah terucap
Hatiku tak pernah bohong terhadap otakku
Syaraf di mulutku sudah terproses ingin mengatakan sesuatu
Disonansi itu terjadi
Antara apa yang harus kukatakan dan tidak
Ujung bibirku terkatup dan tak ingin berbicara apapun
Aku lebih baik diam
Memerhatikanmu membujukku
Aku tetap diam
Mengalihkan pembicaraan, itu keahlianku
Setelah waktu berlalu, kau lupa
Aku terbebas dari pernyataan itu
Pernyataan itu terucap saat kau pergi
"....."
dibuat
suatu saat, yang jelas bukan hari ini
Apa yang kurasakan
Kau tanya
Tapi lebih baik aku tidak menjawab
Kadang,
Saat kita merasa
Lebih sulit mengatakannya
Saat tidak merasa
Dengan mudah terucap
Hatiku tak pernah bohong terhadap otakku
Syaraf di mulutku sudah terproses ingin mengatakan sesuatu
Disonansi itu terjadi
Antara apa yang harus kukatakan dan tidak
Ujung bibirku terkatup dan tak ingin berbicara apapun
Aku lebih baik diam
Memerhatikanmu membujukku
Aku tetap diam
Mengalihkan pembicaraan, itu keahlianku
Setelah waktu berlalu, kau lupa
Aku terbebas dari pernyataan itu
Pernyataan itu terucap saat kau pergi
"....."
dibuat
suatu saat, yang jelas bukan hari ini
Yang dicoba dilupakan
Kau terperangkap dalam jerat pikiran kerangka berpikirmu sendiri.
Tapi kau tidak pernah sadar. Kalau kau sudah terlalu jauh masuk ke perangkap itu.
Aku hanya mencoba menarikmu, tapi tanganmu tak mau menggapaiku.
Aku sudah berusaha menolong. Aku capek. Sudah berbulan-bulan, bertahun-tahun, aku mencoba.
Aku lelah. Untuk apa menolong kalau orang yang ingin ditolong tidak mau menolong dirinya sendiri?
Sejujurnya aku muak. Aku capek. Aku ingin bebas. Aku ingin semua yang aku ingin gapai.
Aku tahu kau bukan hambatan. Kau bukan peluang juga. Tapi kadang rasa bebas itu membelenggu.
Menghantuiku. Setiap hari. Kau sudah banyak berkorban. Kau sudah melakukan semuanya, untukku.
Tapi pernahkah kau tahu? Apapun yang berlebihan akan tidak baik juga.
Apapun yang kekurangan juga tidak akan baik juga. Kita berlebihan. Salahkah jika aku ingin mengakhirinya? Hati dan pikiranku sudah terlalu capek. Sudah lelah, bolehkah mereka tidur sementara?
Masalahmu sudah terlalu banyak untuk digabung dengan masalahku.
Kesannya akan hiperbola. Masalah kita bercampur di mana masing-masing kita sudah pusing dengan urusannya sendiri.
Sudah cukup untuk tahu masalahmu. Jangan jadikan aku tempat sampahmu. Sekali-kali aku menolerirnya, tapi kalau setiap saat?
Bagaikan sungai yang tidak bisa menampung semua air hujan yang jatuh. Banjir. Tumpah ke tempat lain.
Dan inilah....yang terjadi...
suatu saat, yang jelas bukan di waktu ini. bukan hari ini.
Tapi kau tidak pernah sadar. Kalau kau sudah terlalu jauh masuk ke perangkap itu.
Aku hanya mencoba menarikmu, tapi tanganmu tak mau menggapaiku.
Aku sudah berusaha menolong. Aku capek. Sudah berbulan-bulan, bertahun-tahun, aku mencoba.
Aku lelah. Untuk apa menolong kalau orang yang ingin ditolong tidak mau menolong dirinya sendiri?
Sejujurnya aku muak. Aku capek. Aku ingin bebas. Aku ingin semua yang aku ingin gapai.
Aku tahu kau bukan hambatan. Kau bukan peluang juga. Tapi kadang rasa bebas itu membelenggu.
Menghantuiku. Setiap hari. Kau sudah banyak berkorban. Kau sudah melakukan semuanya, untukku.
Tapi pernahkah kau tahu? Apapun yang berlebihan akan tidak baik juga.
Apapun yang kekurangan juga tidak akan baik juga. Kita berlebihan. Salahkah jika aku ingin mengakhirinya? Hati dan pikiranku sudah terlalu capek. Sudah lelah, bolehkah mereka tidur sementara?
Masalahmu sudah terlalu banyak untuk digabung dengan masalahku.
Kesannya akan hiperbola. Masalah kita bercampur di mana masing-masing kita sudah pusing dengan urusannya sendiri.
Sudah cukup untuk tahu masalahmu. Jangan jadikan aku tempat sampahmu. Sekali-kali aku menolerirnya, tapi kalau setiap saat?
Bagaikan sungai yang tidak bisa menampung semua air hujan yang jatuh. Banjir. Tumpah ke tempat lain.
Dan inilah....yang terjadi...
suatu saat, yang jelas bukan di waktu ini. bukan hari ini.
Thursday, 27 January 2011
Lebih bodoh
Aku menatap hujan. Dingin. Kali ini hujan terlalu ringan, tapi merasuk dalam jiwa.
“Dia pergi ke mana, Bu?” kataku sambil melihat daun-daun di pohon belimbing yang sepertinya terlalu teduh untuk dilewatkan.
“Mana Ibu tahu? Wong dia pergi saja selalu nggak bilang-bilang,” Ibu tahu, ia berbohong.
Dia pasti tahu ke mana Sekar pergi. Paling tidak ke rumah lelaki jahanam itu. Lelaki yang menanam benih di dalam rahimnya tanpa ingin bertanggung jawab.
Bodohnya cinta, Sekar masih saja datang ke rumahnya. Mencoba beberapa cara untuk meraih lelaki bangsat itu. Apa bagusnya sih seorang pengusaha kaya tapi kelakuan seperti binatang? Mungkin aku juga tidak bisa menyalahkan lelaki jahanam itu, karena Sekar juga turut andil dalam masalah ini. Siapa suruh dia juga mau? Ya ampun Tuhan, apakah cinta begitu buta? Sekar sampai mau menyerahkan dirinya untuk disantap lelaki itu? Sekar memang pacar gelap lelaki itu. Dia yang memilih. Apakah hidup begitu sampah?
“Heh, lagi apa sih kamu? Manyun aja!”
“Eh! Kamu! Aku lagi merenungi manusia-manusia aneh itu. Kalau aku jadi mereka, aku tidak akan berbuat seperti itu”
“Ya, kamu bisa ngomong seperti itu sekarang. Tapi kalau kamu jadi mereka?”
“Ya kan, kalau. Setiap hari ada saja yang aneh. Kemarin malah aku melihat Sekar menangis semalaman di kamarnya.”
“Lalu kamu ingin menghiburnya?”
“Ya tidak. Biarkan saja dia dewasa sendiri. Yang aku bingung. Dulu dia itu tidak seperti itu! Sekar itu perempuan yang ceria. Mana pernah ia menangis? Tapi hidupnya berubah ketika pengusaha jahanam itu datang ke hidupnya. Hei, memangnya cinta itu bisa membuat seseorang menjadi buta ya?”
“Semua orang bisa berubah. Aku juga tidak tahu. Tapi mungkin saja seperti itu. Kamu pernah merasakan cinta?”
“Cinta itu apa?”
“Cinta itu ketika kita dapat melakukan apapun untuk meraih orang yang kita sayangi. Kamu rela melakukan apa saja untuk dia.”
“Ha? Memang segitu besarnya kekuatan cinta?”
“Aku rasa begitu. Kenapa?”
“Bagaimana caranya merasakan cinta?”
“Itu datang tiba-tiba. Kamu juga tidak tahu kenapa itu datang. Ya, kamu pasti akan merasakannya juga nanti.”
“Kalau memang cinta itu datang nanti, aku tidak mau sebodoh Sekar.”
***
Waktu itu hujan. Aku melayang-layang di antara pohon-pohon itu. Mencoba menabrakkan diri. Aku bahkan tidak mengatakan aku cinta dia. Aku bahkan tidak pernah merasakan cintanya. Lagipula aku bodoh. Aku cinta seorang manusia? Mana mungkin! Itu bodoh sekali! Aku menabrakkan diri lagi ke pohon itu. Biarlah aku mati. Dan sekali lagi, ternyata aku lebih bodoh dari Sekar. (*)
“Dia pergi ke mana, Bu?” kataku sambil melihat daun-daun di pohon belimbing yang sepertinya terlalu teduh untuk dilewatkan.
“Mana Ibu tahu? Wong dia pergi saja selalu nggak bilang-bilang,” Ibu tahu, ia berbohong.
Dia pasti tahu ke mana Sekar pergi. Paling tidak ke rumah lelaki jahanam itu. Lelaki yang menanam benih di dalam rahimnya tanpa ingin bertanggung jawab.
Bodohnya cinta, Sekar masih saja datang ke rumahnya. Mencoba beberapa cara untuk meraih lelaki bangsat itu. Apa bagusnya sih seorang pengusaha kaya tapi kelakuan seperti binatang? Mungkin aku juga tidak bisa menyalahkan lelaki jahanam itu, karena Sekar juga turut andil dalam masalah ini. Siapa suruh dia juga mau? Ya ampun Tuhan, apakah cinta begitu buta? Sekar sampai mau menyerahkan dirinya untuk disantap lelaki itu? Sekar memang pacar gelap lelaki itu. Dia yang memilih. Apakah hidup begitu sampah?
“Heh, lagi apa sih kamu? Manyun aja!”
“Eh! Kamu! Aku lagi merenungi manusia-manusia aneh itu. Kalau aku jadi mereka, aku tidak akan berbuat seperti itu”
“Ya, kamu bisa ngomong seperti itu sekarang. Tapi kalau kamu jadi mereka?”
“Ya kan, kalau. Setiap hari ada saja yang aneh. Kemarin malah aku melihat Sekar menangis semalaman di kamarnya.”
“Lalu kamu ingin menghiburnya?”
“Ya tidak. Biarkan saja dia dewasa sendiri. Yang aku bingung. Dulu dia itu tidak seperti itu! Sekar itu perempuan yang ceria. Mana pernah ia menangis? Tapi hidupnya berubah ketika pengusaha jahanam itu datang ke hidupnya. Hei, memangnya cinta itu bisa membuat seseorang menjadi buta ya?”
“Semua orang bisa berubah. Aku juga tidak tahu. Tapi mungkin saja seperti itu. Kamu pernah merasakan cinta?”
“Cinta itu apa?”
“Cinta itu ketika kita dapat melakukan apapun untuk meraih orang yang kita sayangi. Kamu rela melakukan apa saja untuk dia.”
“Ha? Memang segitu besarnya kekuatan cinta?”
“Aku rasa begitu. Kenapa?”
“Bagaimana caranya merasakan cinta?”
“Itu datang tiba-tiba. Kamu juga tidak tahu kenapa itu datang. Ya, kamu pasti akan merasakannya juga nanti.”
“Kalau memang cinta itu datang nanti, aku tidak mau sebodoh Sekar.”
***
Waktu itu hujan. Aku melayang-layang di antara pohon-pohon itu. Mencoba menabrakkan diri. Aku bahkan tidak mengatakan aku cinta dia. Aku bahkan tidak pernah merasakan cintanya. Lagipula aku bodoh. Aku cinta seorang manusia? Mana mungkin! Itu bodoh sekali! Aku menabrakkan diri lagi ke pohon itu. Biarlah aku mati. Dan sekali lagi, ternyata aku lebih bodoh dari Sekar. (*)
Hai, manusia
Hai, manusia
Sudah lama kita tidak berkata-kata
Maaf, bukannya aku melupakanmu
Tapi aku sedang sibuk dengan hobi baruku
Aku tidak melupakanmu
Aku tidak akan menghilangkanmu
Mana mungkin menghilangkan
Seseorang yang bisa menenangkan
Hanya dengan beberapa tanggapan
Dan beberapa lagu
Dulu aku berpikir
Lagu yang kau berikan itu
Memang lagu yang kau tujukan untuk aku, tapi sekarang…
Tidak pun tidak apa-apa
Yang lucunya setelah tidak mendapat tanggapan dariku,
Kau tidak berusaha menghubungiku
Yang lucunya lagi ketika aku bertanya
Kau malah bilang, kau menunggu untuk dihubungi
Senyumku terus tertoreh di atas kanvas mukaku
Ketika harus membaca semua tulisanmu
Apa yang kau lakukan lagi, hai manusia?
Dan mengapa juga sekarang kau berubah?
Kau lebih baik
Lebih semuanya
Terima kasih ya, manusia
Aku ada
Kamu ada
Dan kita ada
Hubungi aku, kalau kau perlu, ya?
28.01.11
Sudah lama kita tidak berkata-kata
Maaf, bukannya aku melupakanmu
Tapi aku sedang sibuk dengan hobi baruku
Aku tidak melupakanmu
Aku tidak akan menghilangkanmu
Mana mungkin menghilangkan
Seseorang yang bisa menenangkan
Hanya dengan beberapa tanggapan
Dan beberapa lagu
Dulu aku berpikir
Lagu yang kau berikan itu
Memang lagu yang kau tujukan untuk aku, tapi sekarang…
Tidak pun tidak apa-apa
Yang lucunya setelah tidak mendapat tanggapan dariku,
Kau tidak berusaha menghubungiku
Yang lucunya lagi ketika aku bertanya
Kau malah bilang, kau menunggu untuk dihubungi
Senyumku terus tertoreh di atas kanvas mukaku
Ketika harus membaca semua tulisanmu
Apa yang kau lakukan lagi, hai manusia?
Dan mengapa juga sekarang kau berubah?
Kau lebih baik
Lebih semuanya
Terima kasih ya, manusia
Aku ada
Kamu ada
Dan kita ada
Hubungi aku, kalau kau perlu, ya?
28.01.11
Subscribe to:
Posts (Atom)